Situ Gintung di Cireundeu Tangerang Selatan Banten anugrah bagi masyarakat dilingkungannya bahkan juga bagi yang diluarnya. Siapa saja yang datang kesana dapat menikmatinya dengan keteduhan air yang dimilikinya, rindangnya pepohonan, tiupan angin yang dapat melepaskan kepenatan. Semua anugrah itu seolah muncul begitu saja, tanpa difahami datang dari mana, dan siapa yang menciptakan walau sudah masuk pada wilayah rekayasa manusia. Semua kenikmatan itu kita rasakan dengan tanpa berfikir mungkin akan terjadi perubahan. Kita tidak pernah berfikir kenikmatan itu akan berakhir dan juga ada batasnya. Ditengah-tengah keterlenaan atas dasar kenikmatan, Tuhan mempunyai rencana lain dan itu sudah dibuktikan. Hari Jum'at dini hari 27 Maret 2009, tempat yang tadinya menjadi anugrah dengan tiba-tiba jebol berubah menjadi bencana dan malapetaka. Kejadian itu sungguh memilukan dengan banyaknya mayat yang bergelimpangan, bangunan rumah dan lingkungan yang porak poranda habis dilanda oleh amukan air yang tidak terkendali, tapi lagi-lagi banyak orang yang mensikapi bahwa itu semata-mata bencana alam yang jauh dari pemikiran kemungkinan yang lain yaitu adanya kemarahan Tuhan. Sudah sejauh itukah nilai-nilai ke Tuhanan yang tidak lagi menjadi acuan dalam kehidupan? |
Jumat, 27 Maret 2009
Bila Tuhan menampakan Kekuasaan Nya
Jumat, 13 Maret 2009
SILATURAHMI POLITIK DAN RASIONALITAS YANG SUSAH DIFAHAMI
Yusuf Kalla sebagai Ketua Umum Partai Golkar baru-baru ini mengunjungi Megawati sebagai sowan politik yang sulit untuk ditebak arahnya kemana. Hubungan Golkar dengan Demokrat akhir-akhir ini agak "memanas" yang diawali oleh salah satu Ketua Demokrat yang menyatakan Golkar pada Pemilu yang akan datang tidak akan mendapatkan suara yang signifikan, yang kemudian secara langsung Pak SBY sebagai Ketua Dewan Pembina mencoba untuk turun tangan "mendingikan" suasana yang ditimbulkannya. Untuk menetralisir akibat dari pernyataan itu, Agung Laksono dan Muladi yang keduanya adalah petinggi Golkar menyatakan bahwa apa yang disampaikan oleh Burhanudin Napitupulu itu pernyatan pribadi dan ngawur, yang sasarannya adalah juga mencoba untuk meredam akibat yang akan timbul dalam upaya memaintenence hubungan antara Presiden dan Wakil Presiden. Retorika politik yang dimunculkan oleh kedua belah fihak, kalau hanya sampai disitu, mungkin masih bisa dimaklumi, karena semua itu diharapkan untuk tidak mengganggu koordinasi pemerintahan antara Presiden dan Wakil Presiden dalam melaksanakan tugasnya masing-masing yang akan berakibat terhadap jalannya roda pemerintahan. Namun masalahnya tidak sampai disitu. Ketika JK melakukan sowan dengan berbagai Partai terutama dengan PDIP dianggap kurang rational (dalam tataran aplikasi politik) dilihat dari kehendak masing-masing. Ketidak rationalan itu bisa dilihat dari keinginan masing-masing untuk jadi presiden dan itu mustahil. Lantas apa sebenarnya yang diinginkan oleh mereka berdua dari pertemuan itu? Ada komentar dari salah seorang yang merefresentasikan kedua partai tersebut bahwa pemerintahan akan kuat manakala didukung oleh formasi parlemen (parpol) yang kuat. Dari sisi pemikiran itu memang benar adanya, tapi bagaimana wujudnya perpaduan (koalisi) parlemen antara golkar dan PDIP yang masing-masing berkeinginan agar Ketua Umumnya jadi Presiden? Kalau kemudian dalam tataran implementasi perpaduan (koalisi) Golkar dan PDIP sulit diwujudkan, lantas apa sih maksud dari pertemuan itu? Kalau dibolehkan untuk berfikir "liar", jangan-jangan kunjungan Yusuf Kalla untuk menemui Megawati itu didasarkan kepada persaan yang sama bahwa SBY adalah common enemy bagi mereka yang kita faham dari masing-masing keinginan mereka. Atau lebih ekstrim lagi ada kesamaan pikiran "asal bukan SBY". Kalau pikiran liar itu menjadi kenyataan, maka pada suatu saat pasti akan terjadi suatu kondisi hubungan politik antar Golkar dengan PDIP bisa lebih meruncing manakal mereka sudah sampai kepada persaingan diantara mereka untuk memperebutkan kursi Presiden. Hal ini bisa terjadi kalau memang mereka "keukeuh" pada pendirian masing-masing. Dan bagi JK kalau memang tidak keukeuh, artinya mau menerima sebagai capres, dan itu nampaknya sulit. Kalau begitu kenapa harus cape-cape melakukan pendekatan kepada Megawati? |
Selasa, 03 Maret 2009
POLAH TINGKAH CALEG
Apa yang dilakukan para caleg untuk mendapatkan suara? Yang lebih mengerikan, terdengar suara-suara bahwa diantara caleg sudah meyakinkan kepada dirinya untuk tidak perlu kampanye dan cape-cape menemui konstituen, karena dia memiliki duit yang berlimpah akan menggunakan konsep “serangan fajar” atau membeli suara dari oknum-oknum penyelenggara pemilu. Dari fenomena demikian, nampaknya apa yang disebut kemampuan, amanah dan bertanggung jawab tidak lagi bisa dijadikan modal bagi seorang caleg untuk meraih kemenangan. Kalau nyatanya demikian, sebenarnya apa yang kita harapkan dari pemilu? Apa hanya sekedar pemenuhan instrument demokrasi, atau demokrasi akal-akalan? Padahal nilai ideal dari pemilu yang difahami adalah memilih wakil-wakil rakyat dengan segala kretarianya, dengan harapan bisa memperbaiki dan membawa Negara ini kearah yang lebih baik dengan stressing kepada terwujudnya masyarakat yang sejahtera diberbagai bidang, sejahtera ekonomi juga “sejahatera” dalam politik. Apakah nilai-nilai ideal itu bisa terwujud kalau fenomena diatas betul-betul terjadi? Wallahu a’lam. |


.jpg)