Yusuf Kalla sebagai Ketua Umum Partai Golkar baru-baru ini mengunjungi Megawati sebagai sowan politik yang sulit untuk ditebak arahnya kemana. Hubungan Golkar dengan Demokrat akhir-akhir ini agak "memanas" yang diawali oleh salah satu Ketua Demokrat yang menyatakan Golkar pada Pemilu yang akan datang tidak akan mendapatkan suara yang signifikan, yang kemudian secara langsung Pak SBY sebagai Ketua Dewan Pembina mencoba untuk turun tangan "mendingikan" suasana yang ditimbulkannya. Untuk menetralisir akibat dari pernyataan itu, Agung Laksono dan Muladi yang keduanya adalah petinggi Golkar menyatakan bahwa apa yang disampaikan oleh Burhanudin Napitupulu itu pernyatan pribadi dan ngawur, yang sasarannya adalah juga mencoba untuk meredam akibat yang akan timbul dalam upaya memaintenence hubungan antara Presiden dan Wakil Presiden. Retorika politik yang dimunculkan oleh kedua belah fihak, kalau hanya sampai disitu, mungkin masih bisa dimaklumi, karena semua itu diharapkan untuk tidak mengganggu koordinasi pemerintahan antara Presiden dan Wakil Presiden dalam melaksanakan tugasnya masing-masing yang akan berakibat terhadap jalannya roda pemerintahan. Namun masalahnya tidak sampai disitu. Ketika JK melakukan sowan dengan berbagai Partai terutama dengan PDIP dianggap kurang rational (dalam tataran aplikasi politik) dilihat dari kehendak masing-masing. Ketidak rationalan itu bisa dilihat dari keinginan masing-masing untuk jadi presiden dan itu mustahil. Lantas apa sebenarnya yang diinginkan oleh mereka berdua dari pertemuan itu? Ada komentar dari salah seorang yang merefresentasikan kedua partai tersebut bahwa pemerintahan akan kuat manakala didukung oleh formasi parlemen (parpol) yang kuat. Dari sisi pemikiran itu memang benar adanya, tapi bagaimana wujudnya perpaduan (koalisi) parlemen antara golkar dan PDIP yang masing-masing berkeinginan agar Ketua Umumnya jadi Presiden? Kalau kemudian dalam tataran implementasi perpaduan (koalisi) Golkar dan PDIP sulit diwujudkan, lantas apa sih maksud dari pertemuan itu? Kalau dibolehkan untuk berfikir "liar", jangan-jangan kunjungan Yusuf Kalla untuk menemui Megawati itu didasarkan kepada persaan yang sama bahwa SBY adalah common enemy bagi mereka yang kita faham dari masing-masing keinginan mereka. Atau lebih ekstrim lagi ada kesamaan pikiran "asal bukan SBY". Kalau pikiran liar itu menjadi kenyataan, maka pada suatu saat pasti akan terjadi suatu kondisi hubungan politik antar Golkar dengan PDIP bisa lebih meruncing manakal mereka sudah sampai kepada persaingan diantara mereka untuk memperebutkan kursi Presiden. Hal ini bisa terjadi kalau memang mereka "keukeuh" pada pendirian masing-masing. Dan bagi JK kalau memang tidak keukeuh, artinya mau menerima sebagai capres, dan itu nampaknya sulit. Kalau begitu kenapa harus cape-cape melakukan pendekatan kepada Megawati? |
Jumat, 13 Maret 2009
SILATURAHMI POLITIK DAN RASIONALITAS YANG SUSAH DIFAHAMI
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar