Senin, 15 Desember 2008

EFEKTIFITAS IDEOLOGI PARTAI POLITIK

Tabiat sebuah partai politik dalam hal mewujudkan cita-citanya mengharuskan pada dirinya adanya sebuah pijakan dasar atau ideology yang akan dijadikan guaidance dalam menimplementasikan berbagai programnya.

Ideolgi tidak mengharuskan dalam format keagamaan sebagai akumulasi perjuangan yang ingin dicapainya, tapi ideology juga bisa berarti tujuan akumulatif yang diduga sebagai nilai optimal dalam membangun sebuah masyarakat yang diformat dalam bentuk Negara. Sehingga dengan “ideology” itu sekelompok orang berjuang dengan harapan tujuan akumulatif tadi bisa tercapai.

Dalam hal ini tidak terelakan juga ketika Islam dijadikan dasar bagi beberpa partai politik yang tujuan optimalnya adalah bagaimana bisa menjabarkan Islam dalam kehidupan yang diyakini akan memberikan solusi dari berbagai kehidupan duniawi juga ukhrowi (setidaknya bagi yang meyakininya).

Pemahaman seperti ini berlaku bagi orang-oang yang memang sudah memahami (ideology) secara benar, baik dalam tataran teori maupun dalam tataran implementasi yang itu kemudian menjadi sebuah keyakinan. Keyakinan itu akan menjadi produktif dalam kaitannya dengan “memajukan” Negara (dari sudut pandang manapun dari ideology yang dijadikan acuannya) manakala adanya konsistensi bagi para pemangku kebijakan.

Tapi celakanya, ideology (apakah yang bersifat keagamaan ataupun lainnya) yang disebabkan oleh ketidak fahaman atau ketidak konsistenan thd keyakinan yang seharusnya menjadi sumber dasar (inspirasi) dalam berbagai arah kebijakan yang akan dimabil, hanya sekedar dijadikan “komoditas” dalam upaya mencari dukungan dari masyarakat dalam upaya mewujudkan cita-citanya yang nyaris tidak lagi bersinggungan dengan ideloginya. Bahkan tidak sedikit yang kemudian bertentangan dengan ideology yang dibangunnya.

Tidak ada komentar: